Wednesday, October 11, 2006

Tujuan Perjuangan Fordisnam
Bagian 2
Oleh Kris Wijoyo Soepandji

Saya sudah bersentuhan dengan anak2 Biak Papua yang kesehariannya pergi ke sekolah dan sesudah itu bersenang-senang di Pantai Biak yang indah, di balik senyuman dan canda mereka, sebenarnya nilai-nilai tadilah yang tersimpan, bahkan di dalam jiwanya orang pedalaman Papua yang tinggal di Honai dan mengenakan koteka, mereka tidak serta merta butuh rumah dinding yang lebih kokoh atau pakaian yang mampu menahan rasa dingin pegunungan Jayawijaya untuk memenuhi kebutuhan jiwa mereka, dari sorot mata merekalah saya menemukan nilai-nilai tadi. Sewaktu saya pergi ke Ambon untuk mengunjungi sahabat saya dan melihat sisa2 kehancuran, saya bisa merasakan bahwa di balik kebencian yang kadang muncul dan tersulut sebenarnya tersimpan nilai2 di atas. dari tentara, pedagang, nelayan, petani, korban bencana alam, ilmuwan, dokter bahkan seseorang yang tampaknya tidak memiliki kontribusi dalam hidup bermasyarakat ini semua menyimpan nilai2 itu, tetapi kadang2 kita sendiri meletaknya terlalu dalam terbenam dalam beban pikiran yang kita ciptakan sendiri. Saya pernah ditanya oleh beberapa kawan, apakah Indonesia yang Jaya itu adalah Indonesia yang Mall-nya banyak, masyarakatnya sugih kabeh atau bagaimana? Memang benar, bangsa yang besar, kuat, dihargai dan jaya membutuhkan gedung2 pencakar langit, ilmu pengetahuan yang maju, kesehatan yang terjamin bagi rakyatnya, pendidikan yang jauh di atas standard bagus, pertahanan yang disegani, hukum yang diaplikasikan seadil-adilnya, birokrasi yang ramping dan efisien tapi saudara2 tadi yang saya sebut itu hanyalah tool/ media/ alat saja, yang apabila tidak memiliki jiwa yang menghidupinya hanya akan ibarat robot. Bahkan saudara2 Keadilan sendiripun juga merupakan alat/ tool untuk mencapai Indonesia yang Jaya, bukan merupakan tujuan. Nah bagaimana supaya jiwanya itu hidup, sehingga tool yang sudah ada sekarang ini, secara perlahan tapi pasti menuju perbaikan yang hebat2an., inilah yang sekarang sedang saya gali bersama saudara.
berada ditengah2 Putra2 Nusantara asal Biak, Papua (atas); Bersentuhan dengan Putra2 Nusantara asal Ambon (bawah).
Di balik kenyataan itu semua, sebagai seorang Pangestu teringat saya akan apa yang terdapat pada serat Sasangka Jati, “apabila pemahaman manusia akan hidup hanya sampai di sini saja, seperti pendapat mereka yang hanya percaya kepada barang lahiriah saja, maka tersesat kepercayaannya. Sehingga kemudian tidak percaya akan adanya Roh Suci dan sebagainya, tidak percaya akan adanya hari peperiksaan akhir dunia yang disebut kiamat besar, yakni jatuhnya pedang keadilan Tuhan.”
R. Soenarto Mertowardojo, menjadi perantara Suksma Sejati untuk bersabda sehingga terhimpun dalam Serat Sasangka Jati yang merupakan nilai falsafah lokal tertinggi.
Hal ini tentunya selaras dengan ungkapan Ir. Soekarno yang bermakna bahwa merdeka syaratnya bukanlah bebas dari malaria dulu, bukan 50% rakyat kita sudah melek aksara dst. Ibarat orang akan menikah, bukanlah dia harus punya tempat tidur menthul2, perkakas rumah tangga yang mengkilat dari perak, tetapi yang penting ada niat yang seniat-niatnya, keyakinan yang hidup sehidup2nya maka gubuk dan tempat tidur dari kayupun jadi. Bahkan 2000 tahun yang maha lampau sang Kristus telah mengingatkan manusia: ”janganlah kamu khawatir dan bertanya ; apa yang akan kami makan? Apa yang akan kami minum? Apa yang akan kami pakai? Semua itu dicari oleh bangsa2 yang tidak mengenal Allah. Tetapi Bapamu di Sorga tahu, bahwa kamu memerlukan itu semua. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semua itu akan ditambahkan kepadamu---Karena di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada.” Prinsip inipun juga diingatkan kepada manusia melalui Al-Qur’an yang Adiluhung itu, 1500 tahun silam; “Hai orang2 Beriman, janganlah harta2mu dan anak2mu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang2 yang rugi. (Qs. 63:9)”
Dengan dasar Filosofis di ataslah maka saya gambarkan bahwa Indonesia yang Jaya adalah negara yang dihuni Manusia yang berKetuhanan, manusia yang sejati, manusia yang tidak menjadi beban bagi manusia lainnya, tidak menjadi momok bagi manusia lainnya. Negara yang menjadi tempat berteduh bagi siapa saja. Nilai2 nurani manusialah yang menjadi parameter kejayaan Indonesia.
Sekitar dua tahun lalu, saya membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang mundurnya beberapa tentara Israel dari kesatuan Angkatan Udara, dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa sebagai tentara, mereka memiliki keyakinan bahwa nilai2 zionis yang membentuk Israel adalah nilai2 kebebasan dan kemanusiaan, dalam tugas mereka sebagai pilot tempur sudah menjadi keseharian untuk menghancurkan titik yang diduga sarang ‘teroris’. Tetapi saat usai melaksanakan tugas, di televisi mereka melihat bahwa yang menjadi korban adalah anak2 dan rakyat tak berdosa Palestina, ada yang terluka parah, meninggal dunia bahkan tidak sedikit dengan tubuh yang sudah terkoyak. Keyakinan mereka pada sistem yang mengusung nilai2 luhur zionis ternyata telah membuat mereka kecewa dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan mereka. Dari kisah ini saya mengajak saudara2 untuk menilik bahwa ternyata kejayaan Israel yang diusung dengan moncong senjata dan kesewenang-wenangan membuat sang pengusung senjata jengah, merasa kecewa dan bahkan merasa dikhianati hati nuraninya apalagi yang menjadi target penggunaan senjata tersebut. Jadi mustahillah bila kita hendak membangun kejayaan dengan melihat senjata sebagai parameter dan dengan tangan berlumuran darah.
Dua hari yang lalu saya secara tidak sengaja membaca sebuah artikel, dari Warren Peace seorang tentara Amerika Serikat yang bertugas di Indonesia untuk membantu korban becana alam di Yogyakarta. Saat bertugas di Indonesia, dia melihat bagaimana mirisnya korban2 bencana alam, walaupun itu bukan kali pertama dia melihat korban bencana alam, karena sebelumnya dia menyaksikan sendiri di Louisiana tempat kelahirannya dihantam badai Katrina dan Rita, walaupun korban di Indonesia lebih banyak. Bagi dia pemandangan yang mengejutkan ternyata adalah wajah2 penuh senyum, bahkan konvoinya dihujani keramahtamahan. Hal ini bertolak belakang dengan bayangan dia sebelumnya sebagai seorang Kristiani di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang sedang dirudung duka. “Semangat bangsa Indonesia membuat saya terpesona,” kata dia, bahkan menurutnya orang2 Louisiana yang sempat berbicara dengan dia menyerah dan ingin menyalahkan seseorang atas situasi yang mereka hadapi. “Mungkin, kami bangsa Amerika, bisa mendapatkan pelajaran dari masyarakat Indonesia,” lanjut dia. “Mereka (korban bencana Indonesia-pen) saling berbagi makanan dan yang mengejutkan, mereka juga membagikan makanan kepada saya. Padahal saya memiliki jauh lebih banyak makanan daripada mereka. Mereka mengatasi kendala bahasa dengan ketulusan. -Warna kulit, dan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk menerima saya di rumah-rumah mereka. Saya merasa lebih dekat dengan orang2 ini daripada orang2 di kota asal saya di Louisiana. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa pengalaman ini memiliki pengaruh begitu besar dalam hidup saya.”
Demikianlah suatu pembanding yang secara lugas dan langsung menggambarkan apa yang tersimpan secara indah dalam potensi besar bangsa Indonesia, bahwa masyarakat dunia haus akan air hidup, yang muncul dari mata hati manusia yang suci. Bahkan ungkapan itu mengalir dengan deras dari bibir seorang tentara yang berada di bawah bayang2 kedigdayaan bangsa dan negaranya. Dengan menggulirkan apa yang hidup dalam masyarakat Indonesia inilah Indonesia akan mencapai kejayaannya dan menjadi poros dunia.
Kekelaman yang terjadi baik karena manusia seperti bom2 teroris, korupsi, pembakaran hutan, kebobrokan moral, ancaman disintegrasi, kerusuhan, pertikaian SARA sampai akibat alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, gunung meletus dst bila kita telaah secara arif, maka itu semua mustahil diselesaikan dengan todongan senjata semata, atau otonomi seluas-luasnya, bahkan sistem hukum paling sempurna yang bisa dibuat bangsa Indonesia/dunia, atau usaha apapun yang bisa kita lakukan tentunya selain menjabarkan dan mengeluhkan masalah(karena hal ini hanya membuat tambah suram negeri kita ini). Mari kita pandang hal ini dari sisi yang jauh lebih besar dari diri kita dan zaman kita, maka pengalaman bangsa Indonesia ini akan terlihat dengan jelas bagaikan suatu tangga yang dilewati seorang pelajar guna mencapai gelar sarjana, di mana dia harus melewati ujian2 yang maha dasyat, maha berat, ujian yang terkadang sampai pada titik mendekati putus asa sama sekali, sampai akhirnya si Pelajar mendapatkan gelar Sarjana “kehidupan”. Sebenarnya ada dua patokan yang dapat menyelamatkan bangsa kita, yaitu Percaya akan Keadilan Tuhan Yang Maha Esa, karena dari sudut inilah mata hati kita mampu menyelesaikan masalah2 yang selalu gagal dihadapi dengan logika semata dan kedua kesabaran yang berarti luas budi, luas pengetahuan, tidak berhenti berjuang hingga tercapai apa yang menjadi cita2nya . Maka kita Jiwailah kedua poin ini yang diikat dengan keyakinan akan kejayaan Indonesia, dan tebarkanlah hingga menjadi suatu pandangan umum yang melekat kuat sehingga mampu menggerakkan masyarakat secara luas untuk satu keyakinan tadi, “samen bundelling van allen krachten (mengikat semua kekuatan yang ada menjadi satu)”! sehingga menelurkan telur indah yang kita sebut; Empire of the Heart of Men’.

Danau Sentani Papua, simbol nilai "empire of the heart of men" di Indonesia, tempat berteduh yang indah bagi siapa saja.

Monday, October 09, 2006

If it is possible,

i want to meet the spirit of the dead.

Our heros, founding fathers of Indonesia, great figures of all times..

I know it sounds unrealistic, irrational,

whatever it is..

A friend of mine once said:

"Tan Kena Kinaya Ngapa".

It means "cannot be rationally defined".

Just like the existence of God..

Just like my dreams, my obsessions, my believe...

an "Empire of the heart of human."

I want to meet YOU.

And I want to share my dreams..

With you.


Fakhridho SBP (Fordisnam Hukum 2005)

Saturday, October 07, 2006

KAPAN KITA ANGKAT INDONESIA BIAR BENAR2 MJD MILIK ORANG INDONESIA!!!!!!!!!!!!!.....................

MILIK 300AN ETNIS YANG BERDAMPINGAN DI DALAMNYA....

MILIK RATUSAN SUKU YANG MENDIAMINYA.....

MILIK 13.667 PULAU YG ADA DI DALAMNYA....

MILIK ORANG ISLAM...MILIK ORANG KRISTEN....

MILIK ORANG KATHOLIK....

MILIK ORANG HINDU...

MILIK ORANG BUDHA....

MILIK ORANG KONGHUCU....

BAHKAN MILIK ORANG YANG MERAGUKAN AGAMA...!!!

HIDUP PANCASILA!!!!!DIA TIDAK SAKTI !!!!.........

DIA MEMANG NAMPAK TAK BERGUNA,

SETELAH IA DISALAHGUNAKAN SELAMA LEBIH DARI 30 TAHUN.....!!!

TAPI JIKA DIA BENAR2 DIMAKNAI DLM SETIAP JIWA, INDONESIA BISA SAKTI KARENANYA....
DIALAH YANG MENGANGKAT MINORITAS, SEKALIGUS MENGHARGAI MAYORITAS..........!!!!!!!

HARGAI PERBEDAAN.....DAN.
..AYO KITA TEGAKKAN KEMBALI RUH INDONESIA YANG MAJEMUK!!!!!!!!!!!












Pamungkas Ayudhaning (YudHa Fordisnam HI'UI 2005)
Heil Kamerad Muda !!


KITA, bukanlah sekumpulan "ide" yang mudah terkikis oleh waktu

KITA, ada karena KAMU, AKU dan MEREKA

KITA, dilahirkan untuk suatu perubahan yang gemilang

KITA, dikelilingi oleh realita yang akan terus mengasah komitmen KITA

Beranikah anda, tetap 'disini' ketika yang lain mencari 'suaka' ?

beranikah anda, 'berkorban' untuk suatu kejayaan ?

biarkan cita-cita kita tumbuh, semakin aral melintang dan menghadang, semakin kokoh kita bersandar padanya

Musuh adalah mahaguru yang berTopeng

biarkan, yang lain menilai KITA terlalu 'serius', 'idealis','optimistik-kontradiktif'...dll

nikmatilah Ide,dan coba terapkan, semasih Nafas ini mengijinkan untuk terus berkreasi bagi Perjuangan, Persaudaraan dan Kesatuan


Revolutie, Fraternite, Unity !!
















Aloyssius Selwas Taborat

Friday, August 11, 2006

Tujuan Perjuangan Fordisnam
Bagian 1
Oleh: Kris Wijoyo Soepandji
Apa yang akan saya sampaikan dibawah ini adalah bentuk tertulis dari apa yang telah disampaikan saat pembukaan awal Sekretariat Fordisnam, hanya saja digali lebih mendalam, guna tercapai suatu konsensus yang kuat untuk menjadi motor/alasan pergerakan kita;
Fordisnam sendiri dalam proses kelahirannya sudah menentukan bahwa visi-nya adalah membawa Indonesia menjadi Jaya. Pada tahun 1927, di Bandung, Ir. Soekarno menyampaikan bahwa cita-cita dari Partai Nasional Indonesia adalah mencapai Indonesia Merdeka, yang kemudian dijabarkan oleh beliau melalui suatu statement "kemerdekaan dalam politik". Kemerdekaan politik dapat diartikan sebagai kemampuan/kekuasaaan suatu bangsa yang diwadahi oleh suatu negara untuk memberikan keputusan maupun arah kehidupan bagi bangsanya secara merdeka. Artinya bangsa Indonesia yang saat itu masih dinaungi oleh pemerintahan Hindia Belanda diperjuangkan oleh Ir. Soekarno untuk memiliki negara sendiri, yang memiliki kekuasaan sendiri dalam mengatur kehidupan rumah tangganya, serta diakui kedaulatannya oleh negara-negara lainnya agar apa yang menjadi kebutuhan esensi bangsa Indonesia dapat diperjuangkan secara nyata; dengan gambaran kemerdekaan seperti inilah Ir. Soekarno menggambarkan bahwa Kemerdekaan Indonesia merupakan 'Jembatan Emas" bukan cita-cita tertinggi bangsa.
Soekarno, Tokoh Nasionalis Indonesia yang mencanangkan Tujuan PNI adalah Indonesia Merdeka di tengah keragu-raguan para politisi saat itu.
Fordisnam dalam menjelaskan cita-cita Indonesia sebagai Jaya adalah sebagai berikut; Kami meminjam sebuah istilah asing untuk menggambarkan kejayaan Indonesia sebagai :
"Empire of The Heart of Men" suatu definisi yang harus kita gali melalui pemahaman mendalam kita sebagai bangsa dan di mana kita berada. Pemahaman tentang hal ini tidak mungkin dilepaskan dari ikatan sejarah bangsa, mengapa hal ini penting? Meminjam ungkapan Bernard Chenot; " Pour Connaitre un homme, un peuple, ou une institution il faut d'abord apprendre son histoire" bahwa "Untuk memahami seseorang, suatu masyarakat (society), atau suatu institusi pelajarilah terlebih dahulu sejarahnya" karena dengan ditempa oleh sejarahlah suatu bangsa kemudian membentuk naluri alamiahnya atau watak pribadinya dalam menjalani/ menghadapi kehidupan.
Seperti yang kita ketahui bangsa Indonesia adalah bangsa yang mendiami wilayah kepulauan yang dipisah oleh lautan, sehingga selama bertahun-tahun bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa Maritim, selain itu posisi Indonesia yang terletak di antara dua samudera dan dua benua membentuk karakter bangsa Indonesia menjadi suatu komposisi yang aneka ragam, karena terjadinya lalulintas masyarakat dari berlainan budaya maupun peradaban. DR. A. R. Soehoed di dalam tulisannya yang berjudul Das ToetenKreuz menceritakan bagaimana Nusantara kita adalah ibarat suatu salib yang mematikan, suatu daerah yang sangat kental akan kepentingan2 baik dari luar maupun dalam negeri (Belanda dapat menaklukkan Indonesia karena, waktu itu Banten dan Jayakarta saling bertikai) sehingga tidak mengherankan bagaimana potensi2 konflik akan dapat meledak setiap saat, tetapi potensi ini dapat dialihkan menjadi suatu potensi manfaat yang sangat besar bila kita memahami lapangan global saat ini dan masa depan serta kemampuan kita mengelola kreuz/ikatan/salib/silang menjadi kokoh dan kuat, karena bila si unsur2 dari ikatan tadi lepas, maka kekuatan unsur2nya pun lepas. Tetapi apakah dasyatnya dampak dari posisi silang tadi hanya berupa rentannya Indonesia akan konflik kepentingan atau masih menyimpan hal lain?
Di dalam sebuah ceramah di Lembaga Ketahanan Nasional RI tahun 1970an, John Rahasia menyampaikan bahwa dahulu bangsa yang mendiami wilayah kepulauan asia tenggara, Polynesia Samudera Pasifik, hingga oceania, adalah bangsa Pelaut dan mereka menyembah dewa laut “Tagaroa” (tangaroa; khusus untuk suku Maori di New Zealand, dewa Tangaroa masih disebut seperti itu), bangsa ini kemudian juga disebut Tagaroa. Nah bangsa Tagaroa ini karena kehandalannya dalam melaut, mereka tidak cukup sampai di daerah pasifik, namun terus mengarung hingga daerah Madagaskar. Dalam catatan sejarah, keturunan bangsa Tagaroa yang memiliki perkembangan yang paling mencolok adalah di daerah Nusantara dan asia tenggara, entah karena terletak di daerah tropis, atau karena kedudukannya yang strategis.
Gajah Mada Tokoh Pemersatu Nusantara di Zaman Majapahit
Hal ini dibuktikan dari muculnya kerajaan-kerajaan yang digdaya saat itu seperti Sriwijaya dan Majapahit. Kedua kerajaan ini memiliki kemasyuran sendiri-sediri tetapi pada hakekatnya keduanya merupakan kerajaan maritim yang memanfaatkan posisi silang Nusantara yang tidak mungkin lepas dari pertukaran peradaban besar saat itu yaitu dari India(yang ratusan tahun sebelumnya telah mengenal peradaban Eropa dan Persia melalui Iskandar Zulkarnain) dan dari Cina yang kebesaran peradabannya tidak disangsikan dunia. Baik, pedagang biasa, tabib Cina, ilmuwan, negarawan, diplomat, Bisku, pendeta Hindu, penganut Kong Hu Chu pernah menetap dan menyebarkan pengaruh mereka di Nusantara, perwujudan dari masa ini adalah dibangunnya candi2 megah di Nusantara, seperti Borobudur dan Prambanan.
Masuknya nilai2 Hindu, Budha dan Peradaban Cina Di Indonesia terbukti secara kental dan nyata
Sejarahpun terus bergulir, pedagang-pedagang Muslim yang berdagang di Nusantara kemudian menyebarkan ajaran-ajaran Islam di mana ajaran ini menjunjung kebenaran Sejati melalui Allah(penyebaran ajaran Islam di Indonesia cenderung mulus dan tercatat melalui jalan damai karena para ulama yang menyebarkan Islam mampu menggunakan sarana budaya yang ada untuk mengenalkan ajaran2 agung Islam, co/ wayang orang, drama, pantun dst-pen), kemudian kedatangan pedagang-pedagang Eropa(terlepas dari kemudian timbul niat menjajah) di mana bangsa Indonesia mengenal akan Tuhan dan Kasih Sayang melalui ajaran-ajaran Kristus(di daerah tanah Batak, pendeta Ludwig Nommensen, berhasil mengubah suku Batak yang tadinya terkenal akan kanibalisme menjadi orang2 kristen yang mengenal akan kemanusiaan melalui penterjemahan Injil ke bahasa Batak tahun 1878-pen). Di Nusantaralah kemudian terjadi suatu endapan falsafah/ kebenaran hidup tertinggi dari masing2 peradaban yang kemudian berasimilasi dengan falsafah lokal."
Mesjid Kudus, bukti awal perkembangan Islam di Indonesia ; Pendeta Nommensen, tokoh Misionaris di tanah Batak; Kathedral Jakarta sebuah bukti warisan dari pengendapan nilai Luhur ajaran Katholik di Indonesia.
Dari Paparan bapak John Rahasia maka tidak disangsikan bahwa ajaran-ajaran Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Islam, Kristen serta falsafah lokal yang begitu agung meresap dalam jiwanya bangsa Indonesia yang beraneka ragam ini. Dari nilai2 "ultimate truth" inilah yang membentuk karakter bangsa Indonesia dalam membatasi mana yang benar dan tidak, mana yang nyata dan yang bukan. Sebenarnya ada suatu benang merah yang menghubungkan antara ajaran-ajaran akan falsafah hidup tertinggi manusia itu, hal ini didefisnisikan oleh Ir. Soekarno, di dalam mutiara-mutiara indah Pancasila yang beliau gali yaitu, Ketuhanan yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab. Di dalam ajaran Kristus ada firman: " Hukum yang utama ialah kasihilah Allah Tuhanmu dengan sepenuh hatimu dan segenap akal budimu dan kasihilah sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri."
Di dalam ajaran Islam benang merah ini di definisikan sebagai suatu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah atau biasa disebut Hablulminallah dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya, seperti yang terungkap dalam sebuah firman, "jadikanlah shalat dan sabar menjadi penolongmu" karena dari shalatlah umat muslim membina suatu hubungan erat dengan sang Pencipta, serta melalui kesabaranlah umat muslim membina hubungan dengan sesama manusia, sehingga tercapai apa yang masing2 cita2kan dengan mengurangi potensi konflik dengan pihak lain.
Di dalam ajaran Kong Hu Chu dikenal suatu sabda; "Yu wei Shang Di, Bu Gan Bu Zheng" yang artinya "aku takut akan Tuhan, tidak berani tidak lurus" suatu petunjuk yang mengungkapkan bahwa manusia yang takut akan Tuhan maka dia akan berjalan lurus di dalam hidup bermasyarakat. Dari falsafah Lokal benang merah tadipun hidup seperti tertulis di dalam serat Sasangka Jati yang berasal dari tanah Jawa, “Suksma Sejati bersabda Sesungguhnya manusia itu terjadi dari sinar Tuhan, yakni Roh Suci yang berasal dari Satu Sumber. Jadi sejatinya hidup para manusia itu hanya satu. karena itu hidup rukunlah bersama-sama di dunia, jangan cekcok, saling membenci, bertengkar, bermusuhan dan berperang.----ubahlah watakmu yang jelek tadi, gantilah dengan watak manusiamu yang sejati, agar engkau tetap disebut manusia, serta setia dan taat menghamba pada Tuhan, dengan menetapi apa yang telah menjadi kesanggupanmu dan mematuhi semua perintah Tuhan, serta menjauhi larangan Tuhan, yang telah disabdakan dengan perantara utusanNya(Suksma Sejati)." Nilai-nilai falsafah di atas adalah suatu rel atau trek atau alur atau batasan2 atau "Moral Foundation" untuk menuju "empire of the heart of men" yang saya jelaskan.
Vladimir Putin: "people Can't Live without Moral Foundation"
Bagaimana saya bisa simpulkan seperti di atas? Ada suatu pengalaman sewaktu saya memiliki tugas sekolah di daerah Bogor, tepatnya di daerah stasiun, saya melihat suatu bak sampah yang dikelilingi oleh beberapa belas orang, tua maupun muda yang tergeletak dengan tatapan kosong. Saya menghampiri mereka, dalam hati saya bertanya apakah benar bila kita beri mereka cukup makan, cukup uang, cukup kesehatan maka itu akan menyelesaikan masalah, memang benar manusia di dunia ini membutuhkan makanan, membutuhkan uang dan juga kesehatan, tetapi manusia yang diberi anugerah Tuhan lebih dari ciptaan lainnya, tentunya memiliki kebutuhan esensi yang lebih dari sekedar itu, apakah itu? Saya bertanya dalam hati. Pertanyaan itu terus bergulir dalam kepala saya, tetapi dari pengalaman saya menemukan jawaban yaitu Iman atau keyakinan atau faith. Iman bahwa Tuhan hidup di hati kita, Bangsa Indonesia pada dasarnya bangsa yang percaya pada Tuhan, dari iman itulah maka akan timbul suatu daya jiwa yang luar biasa, tidak mengenal putus asa dalam hidup atau jiwa yang hidup sehidup-hidupnya. Makanan dan kebutuhan lainnya akan terpenuhi dengan sendirinya jika kita memiliki jiwa ini. Sehingga apa yang menjadi tujuan adalah bagaimana kita menjalankan kehendak Yang Maha Kuasa dalam hidup bermasyarakat sesuai dengan kesanggupan jiwa masing-masing. Hal inilah yang sebenarnya tersimpan dalam jiwa manusia secara universal, tapi bangsa Indonesialah yang akan memulainya dan akan menjadi poros peradaban dunia ke depan.
Lanjut Ke bagian 2...

Tuesday, August 01, 2006

Ironisme Papua.

Tidak pernah dalam sejarah Indonesia kekuatan angkatan perang kita dibangun begitu masif dalam waktu yang amat singkat. Hanya dalam kurun waktu beberapa bulan pesawat-pesawat tempur Mikoyan Gurevich terbaru memenuhi langit biru Nusantara. Kapal-kapal perang dari berbagai tipe mengarungi, menyelami lautan Bumi Pertiwi. Rakyat Indonesia dengan semangat membara bersatu padu untuk satu tujuan: Membebaskan bumi Irian (sekarang Papua) dari cengkeraman musuh!!
pembom TU-16 AURI (sumber Angkasa)
KRI Irian (Penjelajah)
MIG-21 AURI (sumber Angkasa)

Papua, provinsi ini begitu istimewanya. Dari sudut historis, ekonomi, maupun geopolitik.
Secara historis, pengembalian Papua ke pangkuan ibu pertiwi menyisakan kisah-kisah patriotik dan kenangan akan kedigdayaan angkatan perang kita. Untuk merebutnya saja digunakan strategi spesial "diplomasi palu godam" yang dicetuskan oleh Bung Karno sebagai diplomasi yang disokong oleh segenap kekuatan nasional melalui instrumen pertahanan dan keamanannya.
Secara ekonomi, bumi Papua memyimpan kekayaan alam yang luar bisa besarnya yang hanya bisa dikalahkan oleh taman Eden. Diversivitas biotanya yang tinggi membuat Papua menjadi surga buat para peneliti. Kandungan mineral di tanahnya yang begitu kaya ibarat kue tart yang cokelatnya berlapis-lapis. Begitu manisnya sehingga menarik perhatian "semut-semut".
isi perut tanah Irian (dok. freeport)

Secara geopolitik, bumi Papua sangatlah strategis karena terletak di persimpangan jalur perdagangan Asia-Australia dan letaknya berdekatan dengan gugusan kepulauan di Lautan Pasifik. Bahkan tentara Sekutu-pun ketika dipukul mundur oleh pasukan Jepang di Filipina, kemudian mendirikan markasnya yang sementara di New Guinea, sebelah timur Papua.
tulang belulang tentara Jepang (kiri) bunker tentara Jepang di Biak yang di bom Sekutu(kanan).

Oleh karena itu, sungguh ironis sekali apabila melihat keadaan masyarakat di Papua saat ini. Kemiskinan, kelaparan dan ketidakadilan merjalela disana. Kekayaan alamnya disedot habis-habisan oleh perusahaan multinasional bernama Freeport hampir tanpa ada kompensasi dan kontribusi terhadap masyarakat sekitar maupun kepada pemerintah. Pengerukan atas kekayaan alam Papua seolah-olah dihalalkan walaupun terjadi kecacatan yuridis, lingkungan dan HAM disana-sini yang diotaki oleh Freeport.
Kompleks Freeport di Papua (doc pt Freeport Indonesia)

Hati terasa teriris-iris apabila mengingat banyaknya darah dan keringat yang dikucurkan untuk membawa Papua kembali ke pangkuan ibu pertiwi jika ternyata keadaan di sana tidak pernah lebih baik daripada dulu. Rupanya pemerintah sudah lupa bahwa Papua adalah wilayah NKRI, dan oleh karena itu tangisan masyarakat Papua adalah tangisan bangsa Indonesia seluruhnya!! Kemarahan masyarakat Papua adalah kemarahan bangsa Indonesia!! Dan senyuman masyarakat Papua adalah senyuman bangsa Indonesia juga.
senyum Putra Papua,Senyum putra Nusantara( Biak 2005)

Pembangunan di Papua harus didasari atas semangat nasionalisme dan kejujuran. Kejayaan bangsa ini hanya dapat terwujud apabila kita menjadi bangsa yang berani dan mandiri!! Nasionalisasi Freeport!! Kita kelola sendiri kekayaan alam bangsa Indonesia.


Fakhridho Susrahardiansah Bagus Pratama Fordisnam Hukum UI '05

Monday, July 31, 2006

Apakah pelajaran kebangsaan masih diperlukan ?

Apakah pelajaran kebangsaan masih diperlukan?

Apakah pelajaran kebangsaan masih diperlukan?

Apakah pelajaran kebangsaan masih diperlukan?

Apakah pelajaran kebangsaan masih diperlukan?


Pelajaran kebangsaan telah lama menjadi materi dalam sistem pendidikan kita selama ini, dengan suatu alasan bahwa tanpa rasa kebangsaan kita tidak mungkin merdeka tahun 45 dulu. Tapi dinamika dulu dengan sekarang telah jauh berubah, arus modernisasi telah membuat kita masa bodoh dengan apa itu kebangsaan, bahkan materi kebangsaan yang disampaikan di sekolah maupun di perguruan tinggi bagi sebagian besar peserta didik disebut sebagai mata kuliah tidak bermakna karena dianggap menutup mata terhadap pergeseran norma-norma sosial, di mana masyarakat mulai meninggalkan prinsip2 nasionalisme, bahkan ironisnya ada orang2 yang sebelumnya berjasa untuk negara baik di bidang ekonomi, pemerintahan, kemiliteran, keamanan dst... tetapi belakangan menjadi pagar makan tanaman (merugikan rakyat), di sinilah terjadi suatu krisis kepercayaan antara pemerintah yang merupakan perwujudan rakyat dengan rakyat pada umumnya. Ada kondisi yang lebih baik atau bisalah dijadikan contoh, misal pejuang Trikora asal Irian, Johannes dimara, dengan segudang penghargaan pemerintah atas jasa-jasanya dia juga tidak pernah tersangkut kasus korupsi apalagi makar, tapi kehidupannya bagaikan tak keurus hingga akhir hayatnya, bahkan teman sekampungnya yg menjadi separatis mengatakan bahwa “upahmu sebagai patriot merah putih Cuma dibayar kandang babi seperti rumahmu ini oleh pemerintah Indonesia.” Kembali ke materi awal apakah materi kebangsaan masih diperlukan dalam sistem pendidikan Indonesia saat ini, pro kontra akan hal ini memang tidak pernah muncul kepermukaan secara radikal, tetapi dengan membiarkan konsep materi kebangsaan di institusi pendidikan tetap seperti saat ini, sama saja seperti menyerahkan leher kambing ke tukang jagal pada saat idul adha, di mana yang dimaksud dengan kambing adalah makna dan tujuan dari materi kebangsaan itu sendiri.


Bila kita lihat secara kasar pada saat ini, memang segala sendi kehidupan kita terlihat borderless, internasional. Kita bisa lihat bagaimana maraknya penggunaan teknologi informasi, arus pertukaran pelajar dengan latar kebudayaan atau melalui beasiswa, atau bahkan ke depan akan terjadi revolusi teknologi global di mana pengembangan nanotechnology, biotechnology dsb, akan menjadi lintas disiplin ilmu, lintas bangsa, lintas batas apapun bahkan menjanjikan satu masyarakat yang bahu membahu membangun dunia, terlihat begitu manis dan indah. Sebelum melangkah lebih jauh ada baiknya kita mendengar pepatah prancis L’histoire serepete,,,sejarah selalu berulang,,,apakah yang berulang? Tentu bukan tool-nya atau medianya tapi prinsip2nya yang berulang,,,jgn juga kita lupa kata2 Ir Sukarno “Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah” kenapa kita jangan melupakan sejarah? Toh jaman sekarang untuk bunuh orang tidak perlu pakai pistol seperti jaman jepang tapi bisa menggunakan alat yang disebut dengan bioteroris, alat mematikan dengan ukuran nanometer tanpa terdekteksi,,,kesimpulannya kita tidak boleh lupa sejarah karena prinsip2 dari sejarah itulah yang tidak akan berubah, contoh mengapa tentara jerman kalah di rusia pada Perang Dunia II? Karena mereka lupa bahwa medan di Rusia, saat musim dingin sangat mematikan karena Rusia memiliki general winter yang pernah menghancurkan pasukan napoleon awal abad ke 19 dari yang berjumlah 600ribu jadi tinggal 15ribu. Itulah salah satu contoh L’histoire serepete…

Dari catatan sejarah dunia kita bisa lihat bagaimana peradaban bangsa2 dunia dibangun dan diruntuhkan sejarah, bagaimana bangsa yunani membangun centre of science sebagai ciri peradabannya, romawi sebagai center of warrior, bangsa Turki dengan kekaisaran ottoman termasyurnya, bangsa cina dengan puluhan dinastinya, India dengan budaya hinduismenya yang kental, jepang dengan sang Taiko-nya yang telah menyatukan seluruh provinsi2 yang bertikai, meletakkan dasar-dasar kehidupannya bangsanya sehingga mengantarkan negara ini menjadi industrialis besar 3 abad kemudian…dan terakhir untuk saat ini bangsa yahudi dengan imperium ekonominya di seluruh dunia yang bagaikan hantu gentayangan tanpa ampun memukul bangsa-bangsa yang lemah dan lupa karena mengingkari prinsip2 yang diajarkan oleh sejarah.


Setelah melihat secara kasar mari kita lihat secara halus, jeli, teliti dan cermat dengan menggunakan hati nurani, bukan dengan logika belaka,,,jaman dulu untuk berperang harus dengan bayonet terhunus dengan semangat banzaiii tapi saat ini semangat tetap harus banzai plus ketenangan tetapi yang digunakan sebagai senjata adalah bagaimana kita mau cukup terbuka untuk mengembangkan teknologi mutakhir secara mandiri, serta kita mau cukup terbuka bertempur dengan mind di dalam War-nya idea, untuk mencapai empire of the heart of men. Lihatlah mbah2nya bangsa Cina yang dulu membangun tembok cina sekarang cucunya giat meluncurkan roket ke luar angkasa, lihatlah India yang buyutnya berhasil menghadapi Iskandar Zulkarnain yang masyur itu berhasil membangun silicon valley ke-dua di Bengalore yang merupakan salah satu pabrik software terbesar di dunia..Ternyata dunia ini walaupun semakin dewasa prinsip2nya tidak pernah bergeser dari porosnya, persaingan antar bangsa-bangsa baik secara damai ataupun tidak melalui teknologi, budaya dsb tidak pernah lekang….maka benarlah apa yang difirmankan oleh yang maha kuasa melalui Al Qur’an Al HuJuraat ayat 13 “Hai manusia sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal.”
Dari kenyataan di atas sadarlah kita bahwa tetangga2 kita Cina dan India yang merupakan sahabat karib dari jaman sriwijaya dan majapahit telah memulai new emerging forces seperti jaman dulu kala, tinggal kita menyusul, tentunya dengan jiwa kebangsaan yang tinggi. Sekarang bagaimana kita mulai menanamkan nilai kebangsaan itu? Tentunya kita ingat suatu pepatah lama bahwa untuk membangun peradaban bangsa bangunalah karakternya melalui pendidikan, bila ingin menghancurkan karakter suatu bangsa hancurkanlah sistem pendidikannya contohnya melalui dihilangkan sama sekali tunjangan/ bantuan pendidikan,,,jadi untuk memulai proyek nasionalisasi jiwa-jiwa ini layaknya perusahaan asing di jaman sukarno,,,haruslah melalui sistem pendidikan kita…tinggal kita merombaknya dari yang dipandang kurang memiliki makna dalam realita menjadi bertampang dan memang berisi kehormatan, kebenaran dan kemuliaan. Materi kebangsaan haruslah tidak njlimet tapi cukup realistis dan mampu menggerakkan jiwa2 manusia Indonesia secara massal dan berkelanjutan…


Ada prinsip2 dalam materi kebangsaan yang harus disampaikan. Prinsip2 itu harus di mulai dari jiwa kita sendiri sebagai suatu bangsa…ya nemo’ke maneh piandel bangsa Indonesia…kalo Hitler zaman the The third reich-nya mengatakan bahwa ”ein volk ein vaterland ein fuhrer” maka saya katakan Indonesia ein natie, ein vaterland, ein Pancasila. Kenapa kok kita berbeda konsep dengan si Der Fuhrer itu? Mari cukup kita lihat bagian awal saja tanpa melihat lainnya ein volk itu semboyan Hitler..nah satu volk…volk sendiri merupakan suatu pengelompokan manusia berdasarkan persamaan kebudayaan, ras, dsttt maka munculah apa yang disebut malam kristal di jerman di mana orang-orang non jerman di hancurkan rumah2nya,,nah bagaimana dengan ein natie itu…satu natie berpengertian bahwa kita disatukan dalam satu kelompok bangsa Indonesia bukan karena hal ras melulu(sebagai orang melayu) tapi kita disatukan dalam kelompok berdasarkan pada adanya kesadaran bernegara, tanpa membedakan merupakan ras atau volk, agama, pandangan2 tertentu dst, selama orang memiliki kesadaran untuk bernegara Indonesia yang jaya maka dia bangsa Indonesia. Saya punya kawan seorang keturunan Taiwan bernama Tang Hwei Pang, ayahnya imigran dan seorang pengusaha, suatu saat saya bertanya padanya “OOM kalo Indonesia perang sama Malaysia kasus ambalat oom mau angkat senjata atau kabur pulang kampung?” muncullah suara cadel khas tanah tiongkoknya kalo tidak langsung dengar memang lucu, tapi kalo kita mendengarnya langsung pastilah kita menitikan air mata karena ketegasan suaranya beliau menjawab “Krlis mau oom angkat senjata ha? Oom bisa…kalo Indonesia butuh oom siap perlang, oom dulu ikut wamil di Taiwan jadi jangan khawatirl kalo oom ngga bisa nembak musuh…” di situlah,,,kita bisa lihat bahwa yang harus dijadikan materi kebangsaan adalah dengan menggali sisi ein natie tadi…dan inilah yang dicita-cita oleh founding father kita Ir. Sukarno, saat beliau ditanya mengenai pembebasan Irian oleh media barat…bahwa kenapa Indonesia mempertahankan Irian dalam Republik, padahal bentuk dan ciri fisik masyarakat yang mendiaminya berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan,,beliau secara nyata tidak terjebak oleh pertanyaan kerdil seperti itu disebabkan kesadaran, kesadaran yang sedalam-dalamnya bahwa Indonesia didirikan bukan didasarkan volk tapi natie…sebenarnya kita tidak usah heran mengapa media barat mempertanyakan hal tersebut karena di Amerika sendiri yang merupakan mbahnya demokrasi dalam membangun negaranya saat awal2 pemerintahannya tidak lepas dari pembantaian suku2 asli inca dan maya tanpa pri kemanusiaan bahkan hingga saat ini mereka jarang muncul sebagai utusan negaranya sebagai pemenang olimpiade internasional,,,berbeda dengan Indonesia yang berhasil melejitkan putra-putri asli Irian yang punya bentuk fisik berbeda dengan orang Indonesia rata2 menjadi juara olimpiade science (Septinus George Saa dan Annike Bowaire) dan atlit sepak bola regional Boaz Solosa,,,


Jadi intinya pendidikan kebangsaan yang disampaikan di sekolah-sekolah maupun di perguruan tinggi haruslah didasarkan pada pemikiran saling menghargai dan berasimilasi untuk tujuan yang sama yaitu cita-cita Indonesia yang jaya…tanpa melupakan nilai-nilai budaya, kebiasaan, serta keyakinan yang dibawa masing2 golongan, termasuk tidak memaksakan orang Irian untuk memakai baju dan melupakan koteka, serta memaksa mereka pindah dari honai ke rumah dinding. Sudah saatnya dalam materi kebangsaan itu juga mucul suatu program pertukaran siswa antar daerah, misal dari aceh ke maluku, dari minang ke Irian, dari pedalaman Kalimantan ke Jakarta, dari gegerkalong tempat aa’ gym ke tanah toraja, dari madura tempat ke Atambua…itulah proses di mana harus terjadi asimilasi budaya…dalam lingkup bangsa Indonesia sehingga akhirnya kita memahami diri kita, serta memahami medan pertarungan kita melalui pemahaman arah persaingan global kalau perlu ikut menentukan dan serta memahami lawan2 kita melalui event2 pertandingan moot court, diplomasi ambalat sampai membuat MNC2 yang mau ngeruk sdm dan sda kita geleng2 kepala karena mereka tetap terpaksa invest uang di Indonesia tetapi ngga bisa membuat kita tergantung apalagi ngutuh sama mereka, akhirnya bila ditinjau secara menyeluruh akan terjadi suatu keuntungan bersama, tidak saling merugikan secara berlebih.


Dengan materi kebangsaan yang ngga njlimet, sederhana , realistis serta aplikatif dalam kehidupan bukan mustahil kita bisa menyusul bangsa2 sahabat karib masa lalu, cina dan India. Sehingga di zaman yang serba high tech (bio, nano, info tech) kita tetap eksis dan menjadi poros bagi peradaban dunia.


Disampaikan dalam diskusi kedua Fordisnam oleh kris wijoyo

Sunday, July 30, 2006


Lambang Forum Diskusi Nasionalis Muda ini adalah kebanggaan bagi kami. lambang ini sendiri menyimpan makna yang menjiwai perjuangan Fordisnam.
Latar belakang biru tua, dan biru muda menunjukkan perpaduan antara laut yang menggelora dan langit yang indah, hal ini merupakan suatu simbolisasi bangsa Indonesia yang berjiwa maritim dan bernegara kepulauan, ditengah deru dan hantaman ombak ganaslah bangsa Indonesia berjaya.
Sebagai bangsa pelaut sejati bintang adalah petunjuk dalam berlayar, dari gugusan bintanglah nenek moyang kita mampu mengarung samudera dan kembali ke kampung halaman, bintang delapan segi ini menunjukkan arah mata angin seperti kompas, hal ini mengumpamakan bahwa ditengah arus zaman apapun Fordisnam tidak akan kehilangan arah, bahkan menjadi patokan bagi masyarkat, karena Fordisnam percaya bahwa dengan yakin kepada Tuhan secara bulat maka, Yang Maha Kuasa sendiri yang akan menjadi penuntun dan penunjuk jalan benar, melalui utusanNya yang hidup di tiap2 hati manusia yang suci.
Tinta emas menyimbolkan kejayaan dan penghargaan pada intelektualitas (ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan dan sejarah) melalui pena(ilmu, baik secara spiritual, mental, materil) kita akan mencetak suatu kejayaan, yaitu ''empire of the heart of men'', suatu imperium yang dilandaskan pada keTuhanan, Kemanusiaan, dan Nasionalisme dengan terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia tertutama bangsa Indonesia yang ditopang dengan keadilan sosial.

Bendera merah putih dibelakang pena merupakan perwujudan identitas bangsa sebagai bangsa yang majemuk tetapi tetap memiliki prinsip2 dalam jiwa dalam berpikir dan bertindak. Gandhi pernah berkata bahwa "nasionalismeku adalah kemanusiaan," tetapi saya berkata kepada anda bahwa nasionalisme Fordisnam adalah tidak cukup kemanusiaan, tetapi suatu sentuhan timbal balik(saling pengaruh mempengaruhi) antara Ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan, nasionalisme bangsa Indonesia, kerakyatan dan keadilan sosial yang semuanya sangat dinamis, tidak stagnan, mengikuti perkembangan zaman, dan menjadi poros peradaban dunia.

Nasionalis muda dengan warna merah darah dan tulisan menyambung...kata2 yang terangkai indah secara menyambung ini menunjukkan bahwa hasil dari si pena emas adalah manusia Indonesia yang berjiwa cinta pada Tuhan, pada Masyarakatnya baik dalam lingkungan Indonesia maupun dunia, serta selalu berdarah muda yang penuh semangat dan dinamika tetapi tidak pernah kehilangan arah dan tetap mengedepankan kesabaran dan kedewasaan dalam menghadapi masalah serta selalu bergandengan tangan walau memiliki latar belakang yang berbeda2 untuk menjadi suatu rangkaian yang indah, dinamis dan memiliki makna(tujuan) dalam bersatunya itu, seperti rangkaian huruf yang akhirnya bisa dibaca menjadi "Nasionalis Muda".

Lambang yang berbentuk melingkar dan berwarna hitam, menunjukkan bahwa dalam berjuang kita harus dapat berjalan seperti roda, yang sedikit mungkin menghilangkan sudut(konflik) sehingga tujuan perjuangan dapat tercapai, warna hitam menunjukkan bahwa dalam bertindak, kita harus mampu menggariskan mana yang benar harus dipilih mana yang tidak dipilih sesuai dengan prinsip Nasionalis Sejati.

(kris fordisnam hukum ui' 05)
mengapa Fordisnam atau Forum Diskusi Nasionalis Muda didirikan?

akhir januari 2006,
berawal dari pembicaraan pribadi antara saya dengan seorang kawan bernama Yudha yang sedang kuliah di HI UI, di mana ada kebutuhan mendesak untuk adanya gerakan nasionalis di kalangan mahasiswa terutama di UI yang bertujuan supaya gerakan mahasiswa tetap memiliki warna dan jati diri. waktu itu saya mengusulkan agar gerakan itu harus dimulai dengan suatu forum diskusi, karena sebenarnya suatu adu pikiran dan kepandaian berasal/ berhulu pada suatu ajang persaingan ide-ide untuk mencapai suatu masyarakat yang madani, gambaran tentang masyarkat madani pun berbeda-beda sehingga memunculkan anekaragam ide. pendeknya suatu masyarakat madani adalah cita2 tiap manusia yang dituangkan dalam suatu ide2 entah melalui sudut sosial, politik, religius, seni dst yang kemudian diperjuangankan melalui persaingan/ adu kepandaian dengan wujud teknis seperti undang-undang, karya seni, demonstrasi, seminar dsb.

awal Februari 2006
setelah memiliki keyakinan yang cukup, saya kemudian mendapatkan momen tepat. membawa dua orang yang sudah saya kenal, yaitu Selwas seorang keturunan Maluku dan Fakhridho seorang jawa nasionalis ke kantin psikologi UI. di sana saya menyampaikan bahwa, "sadar atau tidak pemuda terutama mahasiswa telah menjadi bagian dari perubahan bangsa yang memiliki pengaruh cukup besar, tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah pemuda-pemuda ini menjadi 'agents of change' atau hanya berupa 'tool of change' yang mudah terbakar emosinya oleh suatu idealisme yang muluk2. kita mungkin bisa melihat bahwa tahun 1928 saat pemuda mengumandangkan sumpah sebagai satu bangsa adalah suatu momen di mana mahasiswa/pemuda adalah 'agents of change', tetapi di tahun 1966 dan 1998 bukankah mahasiswa/pemuda hanya sekedar 'tool of change' . di tahun 1966 kita tidak akan pernah lupa bahwa mahasiswa secara tidak langsung dikendalikan oleh pihak-pihak yang hendak berkuasa sehingga mampu bergerak dan mengganti pemerintahan lama dengan suatu pemerintahan yang dikenal dengan orde baru, pada tahun 1974 saat mahasiswa hendak bergerak yang kemudian pecah peristiwa malari ternyata memiliki hasil yang nihil. l'histoire serepete begitu pribahasa prancis menyebut, mengenai suatu pola sejarah yang selalu berulang bagi mereka yang berhikmat, pada tahun 1998 gelombang reformasi menyapu Indonesia ratusan ribu mahasiswa turun ke jalan, dengan jalan penuh bangga mereka menurunkan pemerintahan orde baru, berpikir bahwa atas kerja merekalah Indonesia akan menuju pemerintahan yang lebih baik, tapi apakah betul bahwa mahasiswa arsitek dari semua transform of power di tahun 1998, bila kita lihat secara jeli ratusan ribu masa takakan mampu bergerak tanpa dorongan yang kuat dari pihak2 yang berkepentingan, terbukti pasca reformasi, saat mahasiswa hendak bergerak seperti tersendat-sendat, demonstrasi hanya berakhir pada menjadi 'model' sampul depan koran tanpa suatu solusi masalah...bahkan di dalam kampus sendiri kepercayaan(trust) antar mahasiswa dalam hal pergerakan sudah luntur. coba bandingkan dengan tahun 1928 yang gerakannya berlanjut dengan kemerdekaan Indonesia tahun 1945, walaupun pada saat2 mempertahankan kemerdekaan ada slentingan2 bahwa Indonesia adalah negara boneka jepang, tetapi itu semua hanya isapan jempol hingga saat Belanda hengkang dari Indonesia. apa berhenti hingga di sana? ternyata tidak pada saat Belanda membokongi perjanjian KMB dengan membuat negara boneka papua, dengan jiwa yang berkobar walaupun di dalam negri diwarnai pertikaian politik yang kental, tetapi pada saat hendak mengembalikan Irian ke dalam Republik, seluruh pemuda Indonesia bersatu, hingga Belanda bergetar dan Irian kembali ke pangkuan pertiwi. dengan belajar dari sejarah kita bisa lihat bahwa gerakan yang sekedar 'regudukan' tidak akan pernah, lepas dari tunggangan2 pihak yang berkepentingan, tetapi bila kita membangun suatu gerakan yang merupakan genuine-nya bangsa Indonesia dengan jiwa asli bangsa Indonesia maka akan ada suatu sustainable struggle, di mana energi mahasiswa/ pemuda yang sedang menggebu-gebu itu dapat bergenua seefisien dan efektif mungkin. tugas kita sekarang adalah membentuk suatu gerakan yang terorganisir dengan landasan keilmuan yang realistis dalam bentuk forum diskusi dengan tujuan utama membangun pola pikir yang bangga menjadi bangsa Indonesia, tidak rendah diri dihadapan bangsa lain dan dua melepaskan pola pikir yang merugikan sesama bangsa Indonesia untuk keuntungan pribadi/kelompok dari masyarakat di Indonesia."

seminggu kemudian dengan bermodalkan niat, dihadiri empat orang yaitu yudha, ridho, selwas dan saya kami berdiskusi dengan optimisme. dua minggu kemudian peserta forum berkembang..hingga saat ini forum telah memiliki markas utama dan perpustakaan organisasi sebagai pusat studi dan riset kami. sosialisasi gerakan pun berlanjut, dukungan maupun celaan akan berjalan dengan beriringan. suatu hal yang berkesan adalah tanggal 25 juli 2006 kami mendapat dukungan dari seseorang yang memiliki reputasi luarbiasa dalam bidang kedokteran, serta penuh dengan asam garam pengalaman di republik ini yaitu Prof. Dr. Djokorahardjo, kesediaannya memberikan masukan pada forum merupakan langkah awal yang baik.

mungkin muncul2 pertanyaan2 baru seperti apakah sebenarnya yang dimaksud dengan jiwa asli bangsa Indonesia, mengapa kami memilih nasionalisme Indonesia sebagai jati diri, nasionalisme seperti apa yang hendak kita bangun dst...semua itu akan saya lanjutkan di kesempatan berikutnya.

Kris Wijoyo (Fordisnam Hukum UI)