Saya sudah bersentuhan dengan anak2 Biak Papua yang kesehariannya pergi ke sekolah dan sesudah itu bersenang-senang di Pantai Biak yang indah, di balik senyuman dan canda mereka, sebenarnya nilai-nilai tadilah yang tersimpan, bahkan di dalam jiwanya orang pedalaman Papua yang tinggal di Honai dan mengenakan koteka, mereka tidak serta merta butuh rumah dinding yang lebih kokoh atau pakaian yang mampu menahan rasa dingin pegunungan Jayawijaya untuk memenuhi kebutuhan jiwa mereka, dari sorot mata merekalah saya menemukan nilai-nilai tadi. Sewaktu saya pergi ke Ambon untuk mengunjungi sahabat saya dan melihat sisa2 kehancuran, saya bisa merasakan bahwa di balik kebencian yang kadang muncul dan tersulut sebenarnya tersimpan nilai2 di atas. dari tentara, pedagang, nelayan, petani, korban bencana alam, ilmuwan, dokter bahkan seseorang yang tampaknya tidak memiliki kontribusi dalam hidup bermasyarakat ini semua menyimpan nilai2 itu, tetapi kadang2 kita sendiri meletaknya terlalu dalam terbenam dalam beban pikiran yang kita ciptakan sendiri. Saya pernah ditanya oleh beberapa kawan, apakah Indonesia yang Jaya itu adalah Indonesia yang Mall-nya banyak, masyarakatnya sugih kabeh atau bagaimana? Memang benar, bangsa yang besar, kuat, dihargai dan jaya membutuhkan gedung2 pencakar langit, ilmu pengetahuan yang maju, kesehatan yang terjamin bagi rakyatnya, pendidikan yang jauh di atas standard bagus, pertahanan yang disegani, hukum yang diaplikasikan seadil-adilnya, birokrasi yang ramping dan efisien tapi saudara2 tadi yang saya sebut itu hanyalah tool/ media/ alat saja, yang apabila tidak memiliki jiwa yang menghidupinya hanya akan ibarat robot. Bahkan saudara2 Keadilan sendiripun juga merupakan alat/ tool untuk mencapai Indonesia yang Jaya, bukan merupakan tujuan. Nah bagaimana supaya jiwanya itu hidup, sehingga tool yang sudah ada sekarang ini, secara perlahan tapi pasti menuju perbaikan yang hebat2an., inilah yang sekarang sedang saya gali bersama saudara.

R. Soenarto Mertowardojo, menjadi perantara Suksma Sejati untuk bersabda sehingga terhimpun dalam Serat Sasangka Jati yang merupakan nilai falsafah lokal tertinggi. Dengan dasar Filosofis di ataslah maka saya gambarkan bahwa Indonesia yang Jaya adalah negara yang dihuni Manusia yang berKetuhanan, manusia yang sejati, manusia yang tidak menjadi beban bagi manusia lainnya, tidak menjadi momok bagi manusia lainnya. Negara yang menjadi tempat berteduh bagi siapa saja. Nilai2 nurani manusialah yang menjadi parameter kejayaan Indonesia.
Sekitar dua tahun lalu, saya membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang mundurnya beberapa tentara Israel dari kesatuan Angkatan Udara, dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa sebagai tentara, mereka memiliki keyakinan bahwa nilai2 zionis yang membentuk Israel adalah nilai2 kebebasan dan kemanusiaan, dalam tugas mereka sebagai pilot tempur sudah menjadi keseharian untuk menghancurkan titik yang diduga sarang ‘teroris’. Tetapi saat usai melaksanakan tugas, di televisi mereka melihat bahwa yang menjadi korban adalah anak2 dan rakyat tak berdosa Palestina, ada yang terluka parah, meninggal dunia bahkan tidak sedikit dengan tubuh yang sudah terkoyak. Keyakinan mereka pada sistem yang mengusung nilai2 luhur zionis ternyata telah membuat mereka kecewa dan memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan mereka. Dari kisah ini saya mengajak saudara2 untuk menilik bahwa ternyata kejayaan Israel yang diusung dengan moncong senjata dan kesewenang-wenangan membuat sang pengusung senjata jengah, merasa kecewa dan bahkan merasa dikhianati hati nuraninya apalagi yang menjadi target penggunaan senjata tersebut. Jadi mustahillah bila kita hendak membangun kejayaan dengan melihat senjata sebagai parameter dan dengan tangan berlumuran darah.
Dua hari yang lalu saya secara tidak sengaja membaca sebuah artikel, dari Warren Peace seorang tentara Amerika Serikat yang bertugas di Indonesia untuk membantu korban becana alam di Yogyakarta. Saat bertugas di Indonesia, dia melihat bagaimana mirisnya korban2 bencana alam, walaupun itu bukan kali pertama dia melihat korban bencana alam, karena sebelumnya dia menyaksikan sendiri di Louisiana tempat kelahirannya dihantam badai Katrina dan Rita, walaupun korban di Indonesia lebih banyak. Bagi dia pemandangan yang mengejutkan ternyata adalah wajah2 penuh senyum, bahkan konvoinya dihujani keramahtamahan. Hal ini bertolak belakang dengan bayangan dia sebelumnya sebagai seorang Kristiani di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang sedang dirudung duka. “Semangat bangsa Indonesia membuat saya terpesona,” kata dia, bahkan menurutnya orang2 Louisiana yang sempat berbicara dengan dia menyerah dan ingin menyalahkan seseorang atas situasi yang mereka hadapi. “Mungkin, kami bangsa Amerika, bisa mendapatkan pelajaran dari masyarakat Indonesia,” lanjut dia. “Mereka (korban bencana Indonesia-pen) saling berbagi makanan dan yang mengejutkan, mereka juga membagikan makanan kepada saya. Padahal saya memiliki jauh lebih banyak makanan daripada mereka. Mereka mengatasi kendala bahasa dengan ketulusan. -Warna kulit, dan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk menerima saya di rumah-rumah mereka. Saya merasa lebih dekat dengan orang2 ini daripada orang2 di kota asal saya di Louisiana. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa pengalaman ini memiliki pengaruh begitu besar dalam hidup saya.”
Kekelaman yang terjadi baik karena manusia seperti bom2 teroris, korupsi, pembakaran hutan, kebobrokan moral, ancaman disintegrasi, kerusuhan, pertikaian SARA sampai akibat alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, gunung meletus dst bila kita telaah secara arif, maka itu semua mustahil diselesaikan dengan todongan senjata semata, atau otonomi seluas-luasnya, bahkan sistem hukum paling sempurna yang bisa dibuat bangsa Indonesia/dunia, atau usaha apapun yang bisa kita lakukan tentunya selain menjabarkan dan mengeluhkan masalah(karena hal ini hanya membuat tambah suram negeri kita ini). Mari kita pandang hal ini dari sisi yang jauh lebih besar dari diri kita dan zaman kita, maka pengalaman bangsa Indonesia ini akan terlihat dengan jelas bagaikan suatu tangga yang dilewati seorang pelajar guna mencapai gelar sarjana, di mana dia harus melewati ujian2 yang maha dasyat, maha berat, ujian yang terkadang sampai pada titik mendekati putus asa sama sekali, sampai akhirnya si Pelajar mendapatkan gelar Sarjana “kehidupan”. Sebenarnya ada dua patokan yang dapat menyelamatkan bangsa kita, yaitu Percaya akan Keadilan Tuhan Yang Maha Esa, karena dari sudut inilah mata hati kita mampu menyelesaikan masalah2 yang selalu gagal dihadapi dengan logika semata dan kedua kesabaran yang berarti luas budi, luas pengetahuan, tidak berhenti berjuang hingga tercapai apa yang menjadi cita2nya . Maka kita Jiwailah kedua poin ini yang diikat dengan keyakinan akan kejayaan Indonesia, dan tebarkanlah hingga menjadi suatu pandangan umum yang melekat kuat sehingga mampu menggerakkan masyarakat secara luas untuk satu keyakinan tadi, “samen bundelling van allen krachten (mengikat semua kekuatan yang ada menjadi satu)”! sehingga menelurkan telur indah yang kita sebut; ‘Empire of the Heart of Men’.






















